KAREBAKINI.COM, MAROS – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Maros terus bergerak membantu warga yang terdampak kekeringan dengan menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami krisis air.
Hingga awal Agustus 2026, PMI Maros tercatat telah mendistribusikan sekitar 108.000 liter air bersih. Bantuan tersebut diprioritaskan untuk wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air, khususnya Kecamatan Bontoa dan Kecamatan Maros Baru.
Ketua Harian PMI Kabupaten Maros, Suryadi Ningrat, mengatakan distribusi di Kecamatan Bontoa telah menyasar sejumlah desa, yakni Binanga Sangkara, Cambayya, Tunikamaseang, dan Suli-Suli.
Sementara untuk Kecamatan Maros Baru, pendistribusian air bersih mulai dilakukan pada Minggu, (02/08/2026).
“Maros Baru hari ini baru mulai pendistribusian,” kata Suryadi.
Menurutnya, PMI rata-rata menyalurkan sekitar 10.000 liter air bersih setiap hari. Program tersebut telah berlangsung sejak 28 Juni 2026.
Pada awal pelaksanaan, distribusi belum dilakukan setiap hari lantaran permintaan masyarakat masih relatif terbatas. Namun, seiring meluasnya dampak kekeringan, kebutuhan air bersih meningkat sehingga penyaluran kini dilakukan secara rutin.
“Memang tidak setiap hari kami turun karena permintaannya saat itu belum terlalu banyak. Sekarang sudah setiap hari turun,” ujarnya.
Suryadi mengatakan proses distribusi sebelumnya sempat terkendala keterbatasan armada. PMI harus menggunakan kendaraan tangki milik pihak lain sehingga penyaluran tidak dapat dilakukan secara maksimal.
“Sempat lambat penyaluran karena kami menggunakan tangki milik pihak lain,” bebernya.
Kendala tersebut kini mulai teratasi setelah PMI Maros memiliki armada tangki sendiri. Dengan dukungan tersebut, distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak dapat dilakukan dengan lebih lancar.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Maros juga terus memantau kondisi kekeringan dan perkembangan cuaca. Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan pemerintah daerah menggunakan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai salah satu dasar dalam menentukan langkah penanganan.
Menurut Chaidir, fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Sementara potensi hujan diperkirakan baru mulai meningkat pada Oktober mendatang.
“BPBD sudah standby dan beberapa stakeholder mulai menyalurkan air bersih ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan,” ujarnya.
Chaidir menyebut sedikitnya enam kecamatan di Kabupaten Maros terdampak kekeringan. Sejumlah wilayah bahkan mengalami krisis air bersih cukup serius, di antaranya Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.
Pemkab Maros bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PMI, serta sejumlah stakeholder lainnya terus memperkuat langkah penanganan. Distribusi air bersih akan dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kekeringan masih berlangsung hingga musim hujan tiba.


Komentar