KAREBAKINI.COM, MAROS – Inovasi energi terbarukan kini hadir di tengah masyarakat peternak ayam broiler di Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tim dosen dan mahasiswa Politeknik Bosowa bersama Politeknik Negeri Pertanian Pangkajene Kepulauan berhasil mengembangkan sistem Hybrid Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan PLN yang dipadukan dengan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung kandang ayam modern (close house).
Selama ini, peternak di Desa Tukamasea harus menanggung biaya listrik tinggi akibat penggunaan pompa air selama 5 jam per hari dan 18 lampu penerangan yang menyala 24 jam. Selain itu, kualitas air minum ayam masih keruh dan pemantauan kandang dilakukan secara manual.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim yang dipimpin oleh Irvawansyah, Lektor DIII Teknik Listrik Politeknik Bosowa ini menghadirkan solusi berupa hybrid PLTS–PLN genset untuk menekan biaya listrik, sistem filtrasi air agar ayam mendapat suplai air bersih, CCTV IoT untuk memantau kondisi ayam secara real time, serta kontrol otomatis pencahayaan berbasis Arduino.
Program ini telah menunjukkan dampak signifikan. Di antaranya, panel PLTS sudah terpasang dan sistem hybrid mencapai 90% tahap perakitan, sistem filtrasi air berfungsi baik di lokasi mitra, CCTV IoT berhasil diuji coba, dan tingkat kematian ayam (mortality rate) turun dari 5% menjadi 2%.
Selain menekan biaya produksi, teknologi ini menjadi contoh penerapan energi terbarukan bagi peternak lain di Maros. Program ini juga mendukung kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya tenaga surya.
Tahap selanjutnya adalah finalisasi integrasi sistem Hybrid PLTS–PLN dengan IoT serta pelatihan bagi peternak sekitar agar teknologi ini dapat diterapkan lebih luas.
Sebagai informasi, program ini merupakan bagian dari kegiatan PkM tahun 2025 dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Kesan Peternak Ayam Boiler
Seorang peternak ayam broiler bernama Arman kini lega. Kandang ayam miliknya yang berukuran 8×36 meter kini tak lagi sepenuhnya bergantung pada listrik PLN.
Berkat pendampingan tim dosen dan mahasiswa dari Politeknik Bosowa bersama Politeknik Negeri Pertanian Pangkajene Kepulauan, Arman berhasil memanfaatkan teknologi hybrid PLTS–PLN untuk mengelola kandang ayam modern.
Sebelumnya, Arman harus menanggung biaya listrik tinggi. Dua pompa air menyala selama 5 jam setiap hari, sementara 18 lampu penerangan berdaya 12 watt harus hidup 24 jam penuh.
“Tagihan listrik jadi beban besar setiap siklus produksi,” ungkapnya.
Kini, dengan panel surya yang sudah terpasang, sebagian kebutuhan listrik kandang dapat dipenuhi dari energi matahari. Sistem hybrid ini memungkinkan perpindahan otomatis dari PLTS ke PLN, sehingga kandang tetap stabil meski cuaca mendung.
Selain listrik, masalah lain yang dihadapi Arman adalah kualitas air. Air yang keruh dan berbau membuat ayam rentan sakit. Tim PkM kemudian memasang sistem filtrasi air sehingga ayam mendapat suplai air bersih.
Tak hanya itu, pemantauan ayam kini lebih modern. Jika dulu Arman harus membuka pintu plastik transparan untuk melihat kondisi ayam, kini ia cukup memantau lewat CCTV berbasis IoT.
“Saya bisa lihat kondisi ayam langsung dari ponsel, bahkan saat tidak berada di kandang,” katanya.
Perubahan ini membawa dampak besar. Tingkat kematian ayam turun dari 5% menjadi hanya 2%. Biaya listrik berkurang, manajemen kandang lebih efisien, dan Arman merasa lebih percaya diri menghadapi siklus produksi berikutnya.
Program ini tidak hanya membantu Arman, tetapi juga menjadi contoh bagi peternak lain di Maros. Dengan teknologi energi terbarukan, masyarakat dapat menekan biaya produksi sekaligus mendukung program pemerintah dalam pemanfaatan energi surya.
Tim PkM berencana melakukan finalisasi integrasi sistem Hybrid PLTS–PLN dengan IoT serta memberikan pelatihan kepada peternak sekitar. Harapannya, semakin banyak peternak yang bisa merasakan manfaat energi terbarukan untuk meningkatkan produktivitas.

Komentar